Minggu, 18 November 2012

Teori Kognisi Lev Semionovich Vygotsky Kognisi



TUGAS PSIKOLOGI BELAJAR
TEORI KOGNISI LEV SEMIONOVICH VYGOTSKY

Oleh:

                                              
                                               EFRILIYA NINGSIH (1013052022)
                                              




     






PENDIDIKAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG

Teori Kognisi Lev Semionovich Vygotsky Kognisi
Vygotsky adalah seorang psikolog Rusia yang walaupun hidup sezaman dengan Piaget, meninggal pada tahun 1934. Namun, karyanya tidak dibaca secara luas di Inggris hingga tahun 1970-an, dan barulah setelah itu teori-teorinya akhirnya berpengaruh di Amerika Utara. Teori Vygotsky sekarang menjadi kekuatan yang luar biasa dalam psikologi perkembangan, dan banyak di antara kritik yang dia tujukan terhadap sudut pandang Piaget lebih dari 60 tahun lalu telah tampil ke depan dewasa ini (lihat Glassman, 2001; John-Steiner & Mahn, 2003).
Gagasan utama Vygotsky :
1.      Dia berpendapat bahwa perkembangan intelektual dapat dipahami hanya dari sudut konteks historis dan budaya yang dialami anak-anak.
2.      Dia percaya bahwa perkembangan tergantung pada sistem tanda yang ada bersama masing-masing orang ketika mereka bertumbuh: simbol-simbol yang diciptakan budaya untuk membantu orang berpikir, berkomunikasi, dan memecahkan masalah, misalnya: bahasa,sistem menulis, atau sistem menghitung suatu budaya.
Teori Vygotsky mengatakan bahwa pembelajaran mendahului perkembangan. Bagi Vygotsky, pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain. Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Kemampuan ini disebut kemampuan diri (self-regulation).
Langkah pertama dalam perkembangan kemandirian dan pemikiran independen ialah tindakan dan suara mempunyai makna. Misalnya, seorang bayi belajar bahwa proses menjangkau suatu objek ditafsirkan oleh orang lain sebagai isyarat bahwa bayi tersebut menginginkan objek itu. Dalam kasus perolehan bahasa, anak-anak belajar menghubungkan suara-suara tertentu dengan makna. Langkah kedua dalam mengembangkan struktur internal dan kemandirian melibatkan praktik. Praktik bayi memberikan isyarat yang akan memperoleh perhatian. Anak-anak sekolah akan memasuki percakapan dengan orang lain untuk menguasai bahasa. Langkah terakhir melibatkan penggunaan tanda untuk berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Pada saat ini, anak-anak akhirnya mengatur diri sendiri (self-regulating), dan sistem tanda tersebut telah diinternalisasi.
Percakapan Pribadi
Percakapan pribadi adalah suatu mekanisme yang ditekankan Vygotsky untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi pengetahuan pribadi. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak menyerap percakapan orang lain dan kemudian menggunakan percakapan itu untuk membantu diri sendiri memecahkan masalah. Percakapan pribadi mudah dilihat dalam anak-anak kecil yang sering berbicara dengan diri sendiri, khususnya ketika dihadapkan pada tugas-tugas sulit (Flavell et all., 1997). Kemudian, percakapan pribadi akhirnya tidak terdengar, tetapi masih sangat berperan penting. Studi telah menemukan bahwa anak-anak yang melakukan banyak penggunaan percakapan pribadi mempelajari tugas-tugas yang rumit dengan lebih efektif daripada anak-anak lain (Emerson & Miyake, 2003; Schneider, 2002).
Zona Perkembangan Proksimal
Teori perkembangan Vygotsky menyiratkan bahwa perkembangan kognitif dan kemampuan menggunakan pemikiran untuk mengendalikan tindakan-tindakan kita sendiri pertama-tama memerlukan penguasaan sistem-sistem komunikasi budaya dan kemudian belajar menggunakan sistem-sistem ini untuk mengatur proses pemikiran kita sendiri. Sumbangan terpenting teori Vygotsky ialah penekanan terhadap hakikat pembelajaran sosiokultural (Vygotsky, 1978;Karpov & Haywood, 1998). Dia percaya bahwa pembelajaran terjadi ketika anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal mereka (zone of proximal development). Tugas-tugas dalam zona perkembangan proksimal adalah sesuatu yang masih belum dapat dikerjakan seorang anak sendirian, tetapi benar-benar  dapat dikerjakan dengan bantuan teman atau orang dewasa yang lebih kompeten. Maksudnya, zona perkembngan proksimal menggambarkan tugas yang masih belum dipelajari seorang anak, tetapi sanggup dia pelajari pada waktu tertentu. Beberapa pendidik menyebut “saat pengajaran” (teachable moment) ketika seorang anak atau kelompok anak berada tepat pada posisi kesiapan untuk menerima konsep tertentu. Vygotsky lebih jauh percaya bahwa keberfungsian mental yang lebih tinggi biasanya ada dalam percakapan dan kerjasama di antara orang-orang sebelum hal itu ada dalam diri orang tersebut.
Perancahan
Gagasan kunci yang berasal dari pendapat Vygotsky tentang pembelajaran sosial ialah perancahan (scaffolding) (Wood, Bruner & Ross, 1976): bantuan yang diberikan oleh teman atau orang dewasa yang lebih kompeten. Lazimnya, perancahan berarti menyediakan banyak dukungan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian menghilangkan dukungan dan meminta anak tersebut memikul tanggung jawab yang makin besar begitu dia sanggup (Rosenshine & Meister, 1992). Orang tua menggunakan perancahan ketika mereka mengajari anak-anak mereka menggunakan permainan baru atau untuk mengikat sepatu mereka (Rogoff, 2003). Konsep terkait ialah pemagangan kognisi yang menggambarkan keseluruhan proses keteladanan, pembimbingan, perancahan, dan evaluasi yang lazimnya dilihat setiap kali berlangsung pengajaran perorangan (John-Steiner & Mahn, 2003; Rogoff, 2003). Misalnya dalam Life on the Mississipi, Mark Twain menggambarkan bagaimana dia diajari untuk menjadi seorang pengemudi kapal uap. Pertama-tama, pengemudi yang sudah berpengalaman memberitahukan kepadanya setiap tikungan di sungai tersebut, tetapi secara bertahap dia dibiarkan memikirkan segala sesuatu untuk diri sendiri, dan pengemudinya tetap ada hanya kalau kapal itu akan kandas.
 Dukungan untuk pembelajaran dan pemecahan masalah mungkin saja meliputi petunjuk, sarana yang mengingatkan, dorongan, penguraian persoalan menjadi langkah-langkah penyediaan contoh, atau semua hal lain yang memungkinkan siswa tumbuh secara mandiri sebagai pelajar.
Ada dua implikasi utama teori Vygotsky dalam pembelajaran sains. Pertama, dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of proximal development mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran menekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri (Slavin, 1994: 49).

Pembelajaran Kerja Sama
Teori Vygotsky mendukung penggunaan strategi pembelajaran kerja sama di mana anak-anak bekerja sama untuk saling membantu belajar (Slavin, Hurley & Chamberlain, 2003). Karena biasanya teman-teman bekerja dalam zona perkembangan proksimal satu sama lain, mereka menyediakan contoh bagi satu sama lain tentang pemikiran yang sedikit lebih maju. Selain itu, pembelajaran kerja sama memungkinkan percakapan batin anak-anak tersedia bagi anak-anak lain, sehingga mereka dapat memperoleh pemahaman tentang proses penalaran satu sama lain. Vygotsky (1978) sendiri mengakui nilai interaksi sesama teman dalam memajukan anak-anak dalam pemikiran mereka.
Penerapan Teori Vygotsky di Ruang Kelas
Konsep Vygotsky tentang zone perkembangan proksimal didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan didefinisikan oleh apa yang dapat dilakuakan seorang anak secara mandiri dan oleh apa yang dapat dilakukan anak tersebut ketika dibantu oleh orang dewasa atau teman yang lebih kompeten (John Steiner & Mahn, 2003). Pengetahuan tentang kedua tingkat zona Vygotsky bermanfaat bagi guru, karena kedua tingkat ini menunjukkan di mana anak itu berada pada masa tertentu dan juga ke mana anak itu akan pergi.
Menurut Vygotsky, agar kurikulum sesuai dengan perkembangan, guru harus merencanakan kegiatan yang mencakup bukan hanya apa yang sanggup dilakukan anak-anak itu sendiri, tetapi apa yang dapat mereka pelajari dengan bantuan orang lain (Karpov & Haywood, 1998).
Teori Vygotsky tidak berarti bahwa apa saja dapat diajarkan kepada setiap anak. Hanya pengajaran dan kegiatan yang termasuk dalam zona tersebut memajukan perkembangan. Misalnya, apabila seorang anak tidak dapat mengidentifikasi bunyi dalam suatu kata bahkan setelah berulang kali dibisikkan, anak itu mungkin akan memperoleh manfaat langsung dari pengajaran dan kemampuan ini. Guru dapat menggunakan informasi tentang kedua tingkat zona perkembangan proksimal Vygotsky dalam mengorganisasikan kegiatan di ruang kelas dengan cara berikut :
-          Pengajaran dapat direncanakan untuk menyediakan praktik dalam zona perkembangan proksimal bagi masing-masing anak atau kelompok anak. Misalnya, isyarat dan bisikan yang membantu anak selama penilaian tersebut dapat menjadi dasar kegiatan pengajaran.
-          Kegiatan belajar dan kerja sama dapat direncanakan bersama kelompok-kelompok anak pada tingkat yang berbeda yang dapat membantu satu sama lain belajar (Slavin et al.,2003).
-          Perancahan (John Stainer & Mahn, 2003) menyediakan isyarat dan bisikkan pada tingkat yang berbeda. Dalam perancahan, orang dewasa tidak menyederhanakan tugas tersebut, tetapi peran pelajar itu disederhanakan melalui campur tangan bertahap gurunya.
Teori Kognitif Sosio-budaya dari Vygotsky
Teori Vygotsky adalah teori kognisi sosio-budaya yang menekankan bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan perkembangan kognitif. Vygotsky melukiskan perkembangan sebagai suatu yang tidak terpisahkan dari aktivitas sosial dan budaya (John-Steiner & Mahn, 2003). Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi, dan penalaran, mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika, dan strategi memori. Dalam suatu budaya, hai ini dapat meliputi kegiatan belajar menghitung dengan menggunakan tangannya atau manik-manik.









Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dari teori Vygotsky dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain. Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Kemampuan ini disebut kemampuan diri (self-regulation). Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi, dan penalaran, mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika, dan strategi memori.
















DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W. 2010. Ilmu Perkembangan Remaja. Edisi11. Jakarta: Erlangga.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: PT Indeks.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar