TUGAS PSIKOLOGI BELAJAR
TEORI KOGNISI LEV SEMIONOVICH VYGOTSKY
Oleh:
EFRILIYA
NINGSIH (1013052022)

PENDIDIKAN
BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
Teori Kognisi
Lev Semionovich Vygotsky Kognisi
Vygotsky adalah seorang psikolog
Rusia yang walaupun hidup sezaman dengan Piaget, meninggal pada tahun 1934.
Namun, karyanya tidak dibaca secara luas di Inggris hingga tahun 1970-an, dan
barulah setelah itu teori-teorinya akhirnya berpengaruh di Amerika Utara. Teori
Vygotsky sekarang menjadi kekuatan yang luar biasa dalam psikologi
perkembangan, dan banyak di antara kritik yang dia tujukan terhadap sudut
pandang Piaget lebih dari 60 tahun lalu telah tampil ke depan dewasa ini (lihat
Glassman, 2001; John-Steiner & Mahn, 2003).
Gagasan utama Vygotsky :
1.
Dia berpendapat bahwa perkembangan intelektual dapat dipahami
hanya dari sudut konteks historis dan budaya yang dialami anak-anak.
2.
Dia percaya bahwa perkembangan tergantung pada sistem tanda
yang ada bersama masing-masing orang ketika mereka bertumbuh: simbol-simbol
yang diciptakan budaya untuk membantu orang berpikir, berkomunikasi, dan
memecahkan masalah, misalnya: bahasa,sistem menulis, atau sistem menghitung
suatu budaya.
Teori Vygotsky mengatakan bahwa
pembelajaran mendahului perkembangan. Bagi Vygotsky, pembelajaran melibatkan
perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain.
Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga
sanggup berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Kemampuan ini
disebut kemampuan diri (self-regulation).
Langkah pertama dalam perkembangan
kemandirian dan pemikiran independen ialah tindakan dan suara mempunyai makna.
Misalnya, seorang bayi belajar bahwa proses menjangkau suatu objek ditafsirkan
oleh orang lain sebagai isyarat bahwa bayi tersebut menginginkan objek itu.
Dalam kasus perolehan bahasa, anak-anak belajar menghubungkan suara-suara
tertentu dengan makna. Langkah kedua dalam mengembangkan struktur internal dan
kemandirian melibatkan praktik. Praktik bayi memberikan isyarat yang akan
memperoleh perhatian. Anak-anak sekolah akan memasuki percakapan dengan orang
lain untuk menguasai bahasa. Langkah terakhir melibatkan penggunaan tanda untuk
berpikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Pada saat ini,
anak-anak akhirnya mengatur diri sendiri (self-regulating),
dan sistem tanda tersebut telah diinternalisasi.
Percakapan
Pribadi
Percakapan pribadi adalah suatu
mekanisme yang ditekankan Vygotsky untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi
pengetahuan pribadi. Vygotsky berpendapat bahwa anak-anak menyerap percakapan
orang lain dan kemudian menggunakan percakapan itu untuk membantu diri sendiri
memecahkan masalah. Percakapan pribadi mudah dilihat dalam anak-anak kecil yang
sering berbicara dengan diri sendiri, khususnya ketika dihadapkan pada
tugas-tugas sulit (Flavell et all., 1997). Kemudian, percakapan pribadi
akhirnya tidak terdengar, tetapi masih sangat berperan penting. Studi telah
menemukan bahwa anak-anak yang melakukan banyak penggunaan percakapan pribadi
mempelajari tugas-tugas yang rumit dengan lebih efektif daripada anak-anak lain
(Emerson & Miyake, 2003; Schneider, 2002).
Zona
Perkembangan Proksimal
Teori perkembangan Vygotsky
menyiratkan bahwa perkembangan kognitif dan kemampuan menggunakan pemikiran
untuk mengendalikan tindakan-tindakan kita sendiri pertama-tama memerlukan
penguasaan sistem-sistem komunikasi budaya dan kemudian belajar menggunakan
sistem-sistem ini untuk mengatur proses pemikiran kita sendiri. Sumbangan
terpenting teori Vygotsky ialah penekanan terhadap hakikat pembelajaran
sosiokultural (Vygotsky, 1978;Karpov & Haywood, 1998). Dia percaya bahwa
pembelajaran terjadi ketika anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal
mereka (zone of proximal development). Tugas-tugas dalam zona
perkembangan proksimal adalah sesuatu yang masih belum dapat dikerjakan seorang
anak sendirian, tetapi benar-benar dapat
dikerjakan dengan bantuan teman atau orang dewasa yang lebih kompeten.
Maksudnya, zona perkembngan proksimal menggambarkan tugas yang masih belum
dipelajari seorang anak, tetapi sanggup dia pelajari pada waktu tertentu.
Beberapa pendidik menyebut “saat pengajaran” (teachable moment) ketika seorang anak atau kelompok anak berada
tepat pada posisi kesiapan untuk menerima konsep tertentu. Vygotsky lebih jauh
percaya bahwa keberfungsian mental yang lebih tinggi biasanya ada dalam
percakapan dan kerjasama di antara orang-orang sebelum hal itu ada dalam diri
orang tersebut.
Perancahan
Gagasan kunci yang berasal dari
pendapat Vygotsky tentang pembelajaran sosial ialah perancahan (scaffolding) (Wood, Bruner & Ross,
1976): bantuan yang diberikan oleh teman atau orang dewasa yang lebih kompeten.
Lazimnya, perancahan berarti menyediakan banyak dukungan kepada seorang anak
selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian menghilangkan dukungan dan
meminta anak tersebut memikul tanggung jawab yang makin besar begitu dia
sanggup (Rosenshine & Meister, 1992). Orang tua menggunakan perancahan
ketika mereka mengajari anak-anak mereka menggunakan permainan baru atau untuk
mengikat sepatu mereka (Rogoff, 2003). Konsep terkait ialah pemagangan kognisi
yang menggambarkan keseluruhan proses keteladanan, pembimbingan, perancahan,
dan evaluasi yang lazimnya dilihat setiap kali berlangsung pengajaran
perorangan (John-Steiner & Mahn, 2003; Rogoff, 2003). Misalnya dalam Life on the Mississipi, Mark Twain menggambarkan bagaimana dia diajari
untuk menjadi seorang pengemudi kapal uap. Pertama-tama, pengemudi yang sudah
berpengalaman memberitahukan kepadanya setiap tikungan di sungai tersebut,
tetapi secara bertahap dia dibiarkan memikirkan segala sesuatu untuk diri
sendiri, dan pengemudinya tetap ada hanya kalau kapal itu akan kandas.
Dukungan untuk pembelajaran dan pemecahan
masalah mungkin saja meliputi petunjuk, sarana yang mengingatkan, dorongan,
penguraian persoalan menjadi langkah-langkah penyediaan contoh, atau semua hal
lain yang memungkinkan siswa tumbuh secara mandiri sebagai pelajar.
Ada dua implikasi utama teori
Vygotsky dalam pembelajaran sains. Pertama, dikehendakinya susunan kelas
berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa, sehingga siswa dapat berinteraksi
di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi pemecahan
masalah yang efektif di dalam masing-masing zone
of proximal development mereka. Kedua, pendekatan Vygotsky dalam pengajaran
menekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung jawab
terhadap pembelajarannya sendiri (Slavin, 1994: 49).
Pembelajaran
Kerja Sama
Teori Vygotsky mendukung penggunaan
strategi pembelajaran kerja sama di mana anak-anak bekerja sama untuk saling
membantu belajar (Slavin, Hurley & Chamberlain, 2003). Karena biasanya
teman-teman bekerja dalam zona perkembangan proksimal satu sama lain, mereka
menyediakan contoh bagi satu sama lain tentang pemikiran yang sedikit lebih
maju. Selain itu, pembelajaran kerja sama memungkinkan percakapan batin
anak-anak tersedia bagi anak-anak lain, sehingga mereka dapat memperoleh
pemahaman tentang proses penalaran satu sama lain. Vygotsky (1978) sendiri
mengakui nilai interaksi sesama teman dalam memajukan anak-anak dalam pemikiran
mereka.
Penerapan Teori
Vygotsky di Ruang Kelas
Konsep Vygotsky tentang zone
perkembangan proksimal didasarkan pada gagasan bahwa perkembangan didefinisikan
oleh apa yang dapat dilakuakan seorang anak secara mandiri dan oleh apa yang
dapat dilakukan anak tersebut ketika dibantu oleh orang dewasa atau teman yang
lebih kompeten (John Steiner & Mahn, 2003). Pengetahuan tentang kedua
tingkat zona Vygotsky bermanfaat bagi guru, karena kedua tingkat ini
menunjukkan di mana anak itu berada pada masa tertentu dan juga ke mana anak
itu akan pergi.
Menurut Vygotsky, agar kurikulum
sesuai dengan perkembangan, guru harus merencanakan kegiatan yang mencakup
bukan hanya apa yang sanggup dilakukan anak-anak itu sendiri, tetapi apa yang
dapat mereka pelajari dengan bantuan orang lain (Karpov & Haywood, 1998).
Teori Vygotsky tidak berarti bahwa
apa saja dapat diajarkan kepada setiap anak. Hanya pengajaran dan kegiatan yang
termasuk dalam zona tersebut memajukan perkembangan. Misalnya, apabila seorang
anak tidak dapat mengidentifikasi bunyi dalam suatu kata bahkan setelah
berulang kali dibisikkan, anak itu mungkin akan memperoleh manfaat langsung
dari pengajaran dan kemampuan ini. Guru dapat menggunakan informasi tentang
kedua tingkat zona perkembangan proksimal Vygotsky dalam mengorganisasikan
kegiatan di ruang kelas dengan cara berikut :
-
Pengajaran dapat direncanakan untuk menyediakan praktik dalam
zona perkembangan proksimal bagi masing-masing anak atau kelompok anak.
Misalnya, isyarat dan bisikan yang membantu anak selama penilaian tersebut
dapat menjadi dasar kegiatan pengajaran.
-
Kegiatan belajar dan kerja sama dapat direncanakan bersama
kelompok-kelompok anak pada tingkat yang berbeda yang dapat membantu satu sama
lain belajar (Slavin et al.,2003).
-
Perancahan (John Stainer & Mahn, 2003) menyediakan
isyarat dan bisikkan pada tingkat yang berbeda. Dalam perancahan, orang dewasa
tidak menyederhanakan tugas tersebut, tetapi peran pelajar itu disederhanakan
melalui campur tangan bertahap gurunya.
Teori Kognitif
Sosio-budaya dari Vygotsky
Teori Vygotsky adalah teori kognisi
sosio-budaya yang menekankan bagaimana budaya dan interaksi sosial mengarahkan
perkembangan kognitif. Vygotsky melukiskan perkembangan sebagai suatu yang
tidak terpisahkan dari aktivitas sosial dan budaya (John-Steiner & Mahn,
2003). Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi, dan penalaran,
mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat,
seperti bahasa, sistem matematika, dan strategi memori. Dalam suatu budaya, hai
ini dapat meliputi kegiatan belajar menghitung dengan menggunakan tangannya
atau manik-manik.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan dari teori
Vygotsky dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda
melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain. Perkembangan melibatkan
internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berpikir dan
memecahkan masalah tanpa bantuan orang lain. Kemampuan ini disebut kemampuan
diri (self-regulation). Ia
berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi, dan penalaran, mencakup kegiatan
belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari masyarakat, seperti bahasa, sistem
matematika, dan strategi memori.
DAFTAR PUSTAKA
Santrock, Jhon W. 2010. Ilmu Perkembangan Remaja. Edisi11.
Jakarta: Erlangga.
Slavin, Robert E. 2008. Psikologi
Pendidikan Teori dan Praktik. Jakarta: PT Indeks.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar